PENGEMBANGAN FUNGSI STASIUN DENGAN PRINSIP TOD

Munculnya inisiasi pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk mengembangkan fungsi stasiun kereta mass rapid transportation (MRT) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru layak disambut positif. Paling tidak hal ini membuktikan jika pemerintah bersungguh-sungguh ingin memaksimalkan segala sumber daya dan peluang yang ada untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pilihan pemerintah menjadikan stasiun kereta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi tidak salah. Sebab, stasiun memiliki potensi besar untuk menjadi cikal bakal kawasan ekonomi terpadu. Hal ini didukung oleh banyaknya pengguna kereta yang keluar masuk stasiun dari pagi hingga malam hari. Tercatat, saat ini tak kurang dari 400 ribu orang setiap hari menggunakan sarana transportasi kereta Jabodetabek. Jumlah pengguna kereta akan terus meningkat hingga 3 juta orang per hari saat fasilitas mass rapid transportation (MRT) aktif beroperasi menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga di sekitarnya. Dengan 55 stasiun baru dan 1 stasiun besar, MRT akan menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi bagi provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya.

PERKEMBANGAN FUNGSI STASIUN

Sebenarnya, saat ini proses transformasi fungsi stasiun sudah mulai berlangsung. Perlahan tapi pasti, stasiun telah berkembang menjadi sentra bisnis. Perkembangan fungsi stasiun didorong oleh Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1998 tentang prasarana dan sarana kereta api yang membolehkan stasiun melakukan kegiatan penunjang berupa usaha pertokoan, rumah makan, perkantoran dan/atau akomodasi. Tak heran jika hampir semua stasiun kereta di Jabodetabek memiliki area komersial untuk usaha pertokoan, rumah makan dan jasa publik lainnya. Layaknya sebuah magnet, stasiun kereta juga memiliki daya tarik bagi pertumbuhan bisnis lainnya. Diantaranya adalah bisnis properti, perdagangan, angkutan umum dan jasa parkir. Beberapa stasiun besar seperti Stasiun Depok Baru, Depok, Bojong Gede, Bogor, Serpong dan Bekasi telah tumbuh menjadi stasiun besar yang ikut mendorong tumbuhnya bisnis di sekitar kawasan stasiun. Akan tetapi, lemahnya koordinasi antar instansi pemerintah dan buruknya manajemen kawasan membuat lingkungan stasiun menjadi kawasan yang tak teratur, kotor, semrawut dan tidak tertata. Akibatnya kenyamanan dan keamanan pengguna kereta serta masyarakat sekitar stasiun menjadi terganggu. Padahal menurut Peraturan Pemerintah No.56 tahun 2009 tentang penyelenggaraan perkeretaapian, terciptanya keamanan dan kenyamanan lingkungan stasiun merupakan bagian dari fungsi pokok stasiun. Dalam aturan tersebut dijelaskan jika stasiun diperbolehkan melakukan kegiatan usaha penunjang dengan ketentuan tidak mengganggu pergerakan kereta api, tidak mengganggu pergerakan penumpang dan/atau barang, menjaga ketertiban dan keamanan serta menjaga kebersihan lingkungan stasiun. Dari uraian ini jelas bila pengembangan fungsi stasiun tidak boleh menyalahi fungsi pokok stasiun. Selain itu, pengembangan kawasan stasiun yang saat ini terjadi lebih karena inisiatif masyarakat sehingga pertumbuhan bisnis di sekitar stasiun seringkali tidak terkoordinir, parsial dan tidak berorientasi jangka panjang. Banyaknya masalah yang timbul menjadi kontra produktif dengan tujuan pengembangan kawasan. Masalah yag muncul biasanya berupa kemacetan, rusaknya tata kota, kepadatan penduduk yang tidak merata serta tidak terciptanya ketertiban, keamanan dan kebersihan kawasan. Untuk memaksimalkan pengembangan fungsi stasiun sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, diperlukan tata kelola atau sistem manajemen yang mengintegrasikan fungsi stasiun kereta dengan kawasan residensial, sentra bisnis dan jasa publik lain yang tumbuh di sekitar stasiun. Tata kelola ini diperkenalkan sebagai prinsip pengembangan kawasan transit (transit oriented development/TOD). Sebelumnya, pengembangan kawasan transit telah sukses diimplementasikan di beberapa negara di Eropa, Amerika dan sebagian negara di Asia.

PENERAPAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT

Pada dasarnya transit oriented development (TOD) dimaksudkan untuk mengurangi mobilitas penduduk antar kawasan dengan mengintegrasikan dan mendekatkan sistem transportasi kota, kawasan pemukiman, sentra bisnis dan pusat kegiatan masyarakat sehingga tercipta sebuah kota yang efisien. Dengan mengimplementasikan TOD maka waktu tempuh dan biaya transportasi bisa ditekan sehingga produktifitas masyarakat makin meningkat. Manfaat lain dari pengembangan kawasan transit adalah menciptakan efisiensi dalam pemanfaatan lahan menganggur, meningkatkan nilai tanah dan properti serta menciptakan kawasan ekonomi yang terpadu. Keuntungan yang diperoleh dari pengembangan kawasan transit sangat besar. Bahkan menurut Peter Newman dan Jeffrey Kenworthy dalam bukunya, Sustainibility and Cities:Overcoming Automobile Dependence, investasi pada pengembangan kawasan transit akan memberikan manfaat dua kali lipat lebih banyak bagi sebuah kota dibandingkan investasi pembangunan jalan bebas hambatan. Selain manfaat ekonomi, implementasi TOD juga memberikan manfaat sosial. Diantaranya adalah meningkatkan kualitas hubungan sosial antar anggota masyarakat, menciptakan suasana lingkungan yang aman dan sehat, mengurangi polusi dan ketergantungan pada mobil, mengurangi konsumsi bahan bakar tak terbarukan, mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor, mengurangi angka kecelakaan lalu lintas dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Disamping itu, dengan adanya kawasan transit, masyarakat memiliki ruang publik terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan berbagai aktifitas sosial bersama-sama. Sebagai kota yang sukses mengembangkan kawasan transit, Calgary, kota terbesar di propinsi Alberta, Kanada, memberikan beberapa pedoman dalam menerapkan pengembangan kawasan transit. Dalam best practices handbook of transit oriented development yang dikeluarkan dewan kota Calgary, disebutkan beberapa prinsip penerapan TOD. Diantaranya adalah memanfaatkan lahan tanah dengan benar, meningkatkan kerapatan atau kepadatan penduduk di kawasan transit, membuat jalur trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki, membuat desain tata kota yang baik, menciptakan beberapa jalan alternatif menuju kawasan transit, menyediakan dan mengelola area parkir dengan baik dan membangun stasiun yang nyaman dan aman. Untuk implementasinya di Indonesia, penerapan langkah diatas harus diintegrasikan dengan pembangunan kawasan niaga yang melibatkan partisipasi pengusaha usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM Kalau perlu, penerapan zonasi diberlakukan di kawasan transit untuk melindungi eksistensi pengusaha UMKM dari desakan pengusaha besar. Ketegasan dan keberpihakan pemerintah pada pengusaha UMKM diperlukan agar pengembangan kawasan transit dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara langsung dan optimal. Hingga saat ini sektor usaha mikro, kecil dan menengah telah membuktikan diri menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Terbukti saat krisis ekonomi terjadi, jumlah pengusaha UMKM justru mengalami peningkatan. Diharapkan, akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dapat segera terwujud bila sektor UMKM lebih mendapat tempat dan kesempatan untuk berpartisipasi. Semoga.

Yudi Ali

Peneliti Finedu Indonesia

Pernah dimuat di Harian Kontan 9 Maret 2010

About these ads

One thought on “PENGEMBANGAN FUNGSI STASIUN DENGAN PRINSIP TOD

  1. Stujuh dengan pendapat bapak, seharusnya jalur lalu lintas di depan stasiun bojong gede bisa ditertibkan dgn menggunakan satu arah untuk kendaraan roda empat atau lebih, sedangkan roda dua bisa 2 arah. Hal ini akan meningkatkan nilai tambah pada jalan alternatif dan ketertiban jalan. Dengan jalan yg tertib di Depan Stasiun maka denyut ekonomi akan lebih terasa bagi para pedagang yg ada di sekitas stasiun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s